Ini adalah tulisanku yang mengisi engker di harian Tribun Pekanbaru tanggal 4 Mei 2008. Kisah perjalanan seorang guru wanita yang tetap setia menjalani profesinya.
Pertama Mengajar Dapat Rp 3600
Menjadi guru dizaman Warnita (63) yakni pada tahun 1964 tidaklah seenak seperti saat-saat sekarang. Kehidupan guru pada masa itu jauh untuk dikatakan sejahtera. Bahkan pendapatan yang didapat dari pekerjaan sebagai guru pada masa itu belum mencukupi. Berbeda jauh dari sekarang yang banyak mendapatkan berbagai macam tunjangan dari pemerintah.
Awal menjadi seorang guru 44 tahun silam, Warnita hanya berpenghasilan Rp 3000. Ditambah dengan uang beras setiap bulannya menjadi Rp 3600. Usahkan untuk membangun rumah atau membeli sebidang tanah, untuk mencukupi keperluan sehari-hari saja dirasakan sulit.
Namun walau merasa tak cukup, profesi mulya tersebut tetaplah dijalani dengan kerelaan. Hanya keikhlasan yang dapat membuat hati Warnita meneguhkan hatinya untuk terus Baca selebihnya »

